Oleh: geodesist | Oktober 28, 2009

Indonesian Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS)

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Menurut peta sejarah kegempaan yang dimiliki Badan Meteorologi dan Geofisika, gempa tektonik berskala besar dan kecil sering banyak melanda wilayah selatan dan barat Indonesia. Gempa itu sebagian besar berpusat di perairan yang relatif dekat dengan pulau-pulau tersebut. Hal ini berkaitan dengan adanya pertemuan lempeng benua di dasar laut. Di bawah perairan Indonesia sendiri merupakan tempat bertemunya tiga lempeng benua, yaitu lempeng Hindia atau Indo-Australia di sebelah selatan, lempeng Eurasia di Utara, dan lempeng Pasifik di Timur. Sehingga dapat dimengerti bahwa daerah pesisir Indonesia merupakan daerah yang  sangat rawan gempa dan berpotensi menimbulkan tsunami. Diperlukan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia (Ina TEWS) untuk mendeteksi potensi tsunami pasca gempa tektonik di laut sehingga akan sangat berarti untuk menghindari jatuhnya banyak korban manusia akibat bencana tersebut.

 

 

Gambar 1.1 Menunjukkan patahan sumber gempa (dalam kotak)

 

  1. 2. Tujuan

Mengerti dan memahami lebih jauh mengenai Indonesian Tsunami Early Warnig System (InaTEWS) dan peranannya dalam mendeteksi potensi adanya tsunami sesaat setelah terjadinya gempa tektonik di dasar laut.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1. Perbandingan dengan sistem di luar negeri

Tragedi gelombang tsunami Aceh, yang telah menelan korban lebih dari 120.000 orang di sembilan negara Asia, hingga saat ini merupakan bencana terdasyat dalam sejarah bencana tsunami. Seandainya ada sistem peringatan dini tsunami di kawasan Hindia tersebut, maka jumlah korban tsunami tidak akan sebanyak itu. Meski memantau tsunami tidak semudah yang diperkirakan karena tidak semua gempa tektonik yang berpusat di dasar laut selalu disertai gelombang dahsyat, untungnya tsunami yang berjangkauan luas yang dikenal dengan istilah teletsunami, seperti yang terjadi di Aceh, masih dapat dipantau asalkan ada sistem pemantauan yang efektif.

Sebagai langkah awal untuk memberikan informasi kepada masyarakat jika terjadi bencana diperlukan sebuah informasi yang tepat dan akurat. Untuk itu, diperlukan sebuah sistem pengamanan dini untuk menentukan langkah evakuasi dan meminimalisir terjadinya korban jiwa. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sebagai salah satu lembaga yang selalu meneliti dan memantau keadaan alam memperkenalkan salah satu peralatan berteknologi tinggi untuk menyampaikan informasi tersebut. Peralatan tersebut dikenal dengan nama Ina-TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) karena peralatan tersebut merupakan sebuah variabel pengamanan untuk menangkap maupun menyampaikan informasi secara cepat kepada masyarakat jika suatu saat terjadi bencana alam seperti tsunami.Telah disebutkan bahwa (Ina-TEWS) ditujukan  untuk mendeteksi potensi tsunami pasca gempa tektonik di laut. Untuk tahun 2007 lalu sudah dapat dideteksi dalam waktu 5 menit pasca gempa. Tahun 2005, Indonesia baru bisa mendeteksi dalam waktu 12 menit dan tahun 2006 adalah 9 menit. Kini dengan kian cepatnya pendeteksian serta singkatnya rentang waktu antara berakhirnya gempa tektonik dan potensi terjadinya tsunami akan sangat berarti untuk menghindari jatuhnya korban manusia. Per tanggal 31.12.2007 kemarin dalam jaringan Ina-TEWS telah beroperasi sekitar 90 seismograf dari total target yang akan terpasang sampai akhir 2008 ini yaitu 160 seismograf di seluruh wilayah negara kita.  Untuk stasiun pengukur pasang surut air per tanggal 26.12.2007 telah terpasang 45 stasiun dari target keseluruhan 80 stasiun. Stasiun tersebut diantaranya 35 stasiun digital yang dibangun dari dana APBN, meliputi 30 stasiun real time yang mempergunakan komunikasi VSAT dan 5 stasiun sisanya mempergunakan GSM. Hal ini termasuk bantuan AS sebanyak 6 stasiun dan Jerman 4 stasiun.

Amerika Serikat sendiri mengembangakan semacam pelampung untuk memantau ancaman tsunami di kawasan pantai barat AS yang berhadapan dengan Samudra Pasifik. Penelitian mulai dilakukan pascagempa dan tsunami Cile 1964. Sistem yang dikembangkan AS yaitu DART (Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunami). Pelampung tsunami ini berisi sistem sensor tekanan kolom air di dasar laut atau bottom pressure sensor (BPS). Sensor ini dapat mendeteksi gelombang tsunami dari tinggi 1 sentimeter. Pada DART ada pelampung tambatan di permukaan laut dipasangi antena untuk mengirim informasi secara real-time ke Stasiun Pusat di darat. Komunikasi data dari BPS ke pelampung menggunakan gelombang akustik. Selanjutnya, data dikirim via satelit komunikasi ke Tsunami Warning Center (TWC). Pelampung itu juga mengamati parameter-parameter oseanografi dan meteorologi permukaan laut lainnya. Surface buoy dilengkapi peralatan DGPS (Differential Global Positioning System) untuk memonitor tinggi gelombang permukaan dan memantau pergerakan buoy.

Gambar 1.2 Beberapa contoh Buoy

DART I mulai dioperasikan tahun 2003. Pelampung ini menggunakan komunikasi satu arah dari alat perekam tekanan BPS ke TWC dan NDBC (National Data Buoy Center) via satelit geostasioner yaitu Western Geostationary Operational Environmental Satellite (GOES West). DART I mengirim data setiap satu jam dan setiap 15 menit dilaporkan hasil observasi ketinggian permukaan laut. NDBC akan mengganti seluruh jejaring DART I dengan DART II pada menjelang akhir tahun 2008. DART II dioperasikan pertama kali 2005. Kelebihannya dari DART I adalah kemampuannya berkomunikasi dua arah, BPR-TWCs atau NDBC menggunakan sistem satelit komunikasi iridium. Ini memungkinkan dilakukannya pengujian, perbaikan, dan diagnostik pada sistem pelampung ini dari stasiun pusatnya. Selain itu, mode yang ada dapat diubah dan pengoperasian baterainya dapat diatur. DART II pertama kali dioperasikan di Hawaii, AS. Tahun lalu terpasang di perairan antara Thailand dan Sri Lanka. Pengoperasiannya di Indonesia mulai Oktober mendatang di Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat Padang dan Bengkulu.

 

  1. 2. Efektivitas Sistem InaTEWS

Kekuatan gelombang pasang Tsunami dan kerusakan yang akan ditimbulkan sangat sukar untuk diestimasi karena begitu cepatnya kejadian tersebut.  Tsunami tidak hanya disebabkan oleh satu gelombang saja, melainkan disebabkan oleh beberapa gelombang yang berukuran besar selama waktu 10 s/d 45 menit.  Untuk kembali pada besar osilasi pada gelombang laut normal diperlukan waktu yang berhari-hari. Untuk mengatasi bencana Tsunami ini, salah satu langkah yang bisa diambil yaitu dengan menggunakan Early Warning System (InaTEWS). Untuk mendeteksi terjadinya Tsunami langkah awal dapat dilakukan dengan mengetahui kenaikan tinggi gelombang laut dan tekanannya secara kontinu. Maka dengan pengamatan yang menggunakan real time system hal tersebut dapat dilakukan seperti yang dilakukan dengan sistem Seawatch Indonesia yang ditunjukkan pada gambar 1.3

Gambar 1.3

Ada tiga fase gelombang Seismik yang cukup signifikan pada saat terjadi gelombang Tsunami yang dapat diamati, pada fase pertama dinamakan P-wave yaitu gelombang yang berasal dari sumber gempa didalam lapisan bumi yang mempunyai kecepatan 8 km/dt s/d 13.5 km/dt, gelombang ini akan tercatat pada station pemantauan seismik sehingga dengan mudah dapat diketahui posisi sumber gempa tersebut. Fase kedua dinamakan S-wave yang merupakan gelombang yang merambat pada media air laut sebelum muncul ke permukaan, kecepatan gelombang ini sekitar 6.7 km/dt s/d 8 km/dt dan diklasifikasi sebagai body wave, mengetahui kekuatan gelombang ini sangat penting karena gelombang ini yang akan menentukan ukuran dari gempa yang terjadi.  Sedangkan fase ketiga adalah gelombang seismik yang muncul ke permukaan laut, kekuatannya akan ditentukan dari tingginya kedalaman air laut tersebut.   Kesemua fase ini akan tercatat dalam peralatan seismograph pada stasion pemantauan seismik yang besar magnitudenya diukur dalam bentuk skala logaritma yang dinamakan skala Richter.  Oleh karena itu untuk menjadikan Integrated Early Warning System maka diperlukan kerjasama yang terpadu diantara lembaga-lembaga yang terkait. Untuk lebih jelasnya, akan digambarkan diagram sebagai berikut.

 

 

Sejauh ini sistem InaTEWS dengan real time menurut saya akan sangat efektif jika diterapkan di daerah-daerah pantai yang rawan terkena tsunami. Karena saperti yang telah disebutkan pada penjelasan di atas, dengan sistem real time maka akan dapat memantau kenaikan tinggi gelombang laut serta tekanannya secara terus-menerus (kontinyu).  Namun, kendalanya mungkin pada biaya pengadaan, operasional, pemeliharaan, hingga pembaruan alat yang sangat besar.

Sedangkan untuk sistem InaTEWS dengan analog (grafis), menurut saya masih kurang begitu efektif di dalam mendukung TEWS karena data-data yang diterima oleh lembaga yang berwenang bersifat periodik dan tentu akan sangat mempengaruhi di dalam komunikasi data naik turunnya gelombang air laut. Salah satu contohnya yaitu pada saat terjadinya tsunami yang melanda Pangandaran dan Cilacap 17 Juli 2006. Stasiun pasang surut yang terdekat dengan pusat gempa Pangandaran adalah Cilacap, Prigi, Sadeng, dan Benoa. Namun hanya Benoa yang real time, yang lainnya analog. Jadi, saat gempa dan tsunami terjadi, pengawas pasang surut tentunya akan menyelamatkan diri, dan baru kembali untuk melihat data setelah keadaan tenang.

Berdasarkan perekaman pasang surut di Stasiun Cilacap, air laut pasang mencapai 240 cm dan surut hingga alat menunjukkan angka 18 cm . Stasiun Pasang Surut Cilacap merekam waktu datangnya gelombang tsunami (tsunami arrival time) pada pukul 16.12 WIB (09:12 GMT). Masih berdasarkan grafik pasang surut di Cilacap, waktu tempuh gelombang tsunami dari pusat gempa (9,33 LS – 107,26 BT) menuju Stasiun Pasang Surut Cilacap yang berjarak 257 km adalah sekitar 52 menit 35 detik. Dari jarak dan waktu tempuhnya, diperkirakan kecepatan rata-rata gelombang tsunami di Stasiun Pasang Surut Cilacap adalah 81 meter/detik. Seandainya, stasiun-stasiun tersebut sudah menggunakan real time, data penting tersebut dapat diterima lebih cepat, sehingga bisa menjadi peringatan dini untuk masyarakat.

  1. 3. Komponen fisik dan non-fisik InaTEWS

Pembangunan  InaTEWS didasarkan pada konsep kesepakatan  yang diadopsi dari penjelasan ITIC selama pertemuan WMO dilanjutkan pada IOTWS pada bulan Maret 2005 di Jakarta dimana terdiri dari 3 komponen yang saling berhubungan, yaitu :

  1. Operasional atau Sistem kerja secara teknis, yaitu yang bertanggung jawab pada pemantauan, pemrosesan, informasi peringatan, dan penyebarannya ke masyarakat.
  2. Kapasitas Bangunan, yaitu bertanggung jawab pada pengembangan sistem, pemodelan, pembanguan rumah penduduk, mepersiapkan bahan untuk pelatihan menyangkut material, dam pendidikan.
  3. Tanggap darurat, rahabilitasi, rekonstruksi, yaitu bertanggung jawab pada pengetahuan masyarakat, peningkatan kepedulian dan kesiapan, logistic, rehabilitasi, dan reconstruksi.

 

gambar 1.4

InaTEWS sendiri terdiri atas empat komponen utama, yaitu :

  1. Pemantauan (monitoring), Pemantauan gempa dan segala dinamika laut dengan menggunakan berbagai peralatan seperti
  • pencatat gempa (seismometers), berfungsi mendeteksi dan menentukan gempa di bawah laut.

gambar 1.5

  • pencatat arus laut dan pelampung penanda (buoy), untuk mengidentifikasi perubahan naik turunnya gelombang air laut dan kecepatan arusnya.

.            gambar 1.6

  • Global Positioning System, berfungsi dalam menentukan daerah yang mengalami pergeseran lempeng.
  1. Pemrosesan (Processing), Memproses informasi gempa sebagai data pendukung untuk memastikan sistem peringatan, menggunakan sistem pengambilan keputusan.

gambar 1.7

 

  1. Penyebaran informasi (Dissemination), Penyebaran  informasi dan peringatan ke berbagai lembaga terkait dan komunitas dengan menggunakan peralatan komunikasi.

 

Gambar 1.8  Sirine, speaker, telepon / fax, sms

Berikut adalah sistem jaringan dalam penyebaran informasi,

Gambar 1.9

  1. Kesiapsiagaan masyarakat (Preparedness), masyarakat diharapkan untuk selalu peduli dan siap kapanpun jika sewaktu-waktu bencana gempa dan tsunami kemungkinan akan terjadi,  setalah memperoleh informasi dari lembaga yang bertanggung jawab.

 

Gambar 2.0

  1. 5. Usulan untuk perbaikan

Indonesia sebagai kawasan rawan gempa tsunami memang sudah saatnya membangun sistem peringatan tsunami nasional (InaTEWS) untuk menyelamatkan masyarakat dari serangan tsunami yang mungkin menimpa daerah-daerah di sekitar pantai. Sistem jaringan Seismograf dan Pemantauan Pasang Surut Nasional perlu dimodernisasi ke sistem elektronik dan diperlengkapi dengan sarana komunikasi cepat sehingga bisa berguna untuk pemantauan dan akses data jarak jauh yang real time. Akses data real time dengan telekomuniksi on-line ke seluruh stasiun merupakan prasyarat utama agar para pengambilan keputusan dapat menganalisis dan membuat keputusan peringatan tanda bahaya tsunami.

Jaringan Stasiun Pengamatan Pasang Surut Nasional yang dioperasikan Bakosurtanal yang tersebar di pelabuhan utama seluruh Indonesia dapat ditingkatkan menjadi bagian dari sistem peringatan tsunami nasional, bukan lagi terfokus hanya untuk keperluan pemetaan, pelayaran, dan rekayasa pantai.

Dalam peringatan dini, ketepatan perkiraan dan kecepatan menyampaikan tanda peringatan kepada masyarakat sangat penting karena beberapa pusat peringatan tsunami yang berpengalaman sekalipun tidak bisa luput dari kesalahan dalam memperkirakan tanda tsunami. Menyampaikan peringatan yang salah bisa mengurangi kepercayaan masyarakat kepada sistem yang ada. Namun, dalam kondisi bagaimanapun, masyarakat perlu diyakinkan agar tetap percaya akan informasi peringatan yang telah dibangun nanti. Kecepatan penyebaran informasi sangat penting karena rentang waktu evakuasi jutaan manusia dari pantai ke daerah yang lebih tinggi (perbukitan) sangat sempit.

Dalam pengadaan peralatan-peralatan InaTEWS untuk mendeteksi terjadinya bencana tsunami  memang tidak bisa dipungkiri akan menyerap biaya yang tidak sedikit. Hal ini ditambah oleh biaya operasional, pemliharaan, hingga pembaruan dan Belum lagi jika instrumen itu rusak dan mengharuskan penggantian komponen. Upaya preventif dapat dilakukan oleh pemerintah bekerja sama dengan lembaga tertentu yaitu menggalakkan penanaman hutan bakau, khususnya di daerah pesisir pantai. Hutan bakau memiliki sistem perlindungan dan pengamanan kawasan pesisir yang sangat baik. Setiap gelombang pasang yang datang mampu diredakan melalui hutan yang lebat. Tidak mengherankan, banyak daerah yang memiliki hutan bakau umumnya lolos dari terjangan tsunami. Oleh karena itu, sudah saatnya digalakan penanaman bakau di sepanjang daerah yang potensial terkena tsunami.

BAB III

PENUTUP

  1. 1. Kesimpulan

Wilayah Indonesia berpotensi tinggi mengalami gempa-gempa tektonik khususnya di Samudra Hindia hingga menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Hal ini disebabkan pertemuan kedua lempeng tersebut bertipe subduksi atau menujam. Lempeng Indo-Australia yang berada di bawah laut menukik masuk ke bagian bawah lempeng benua Eurasia. Mengingat distribusi terjadi tsunami di Indonesia cukup besar dan untuk mengantisipasi bencana gelombang tsunami serupa pada masa mendatang, maka saat ini sangat diperlukan sebuah peralatan sistem informasi yang dikenal Sistem Peringatan Dini untuk bencana Tsunami (InaTEWS) yang bekerja secara real time dimana fungsinya yaitu mendeteksi potensi tsunami pasca gempa tektonik di laut dalam waktu kurang dari 5 menit pasca gempa. Kini dengan kian cepatnya pendeteksian serta singkatnya rentang waktu antara berakhirnya gempa tektonik dan potensi terjadinya tsunami akan sangat berarti untuk meminimalisir jatuhnya korban manusia dan kerusakan yang ditimbulkan.

 

  1. 2. Saran

InaTEWS yang dibangun dengan biaya mahal tersebut tidak akan banyak bermanfaat kalau wawasan, kesadaran, perhatian, dan tingkat kesiapan masyarakat dan pemerintah masih rendah. Upaya-upaya untuk meningkatkan kepedulian dan kesiapan masyarakat harus sudah mulai dilakukan diantaranya, diseminiasi informasi melalui media cetak, media elektronik, brosur, poster, dan pamflet, serta pembuatan peta-peta bencana, penyediaan infrastruktur untuk pelatihan, seminar, workshop, ceramah, dan latihan evakuasi (tsunami evacuation drill). Selain itu, diantaranya memberdayakan masyarakat untuk membangun kapasitasnya menghadapi bencana dengan menggali dan mengeksplorasi kearifan lokal, misalnya pada konstruksi bangunan tradisional tahan gempa, penyampaian peringatan atau bahaya akan datangnya bencana dengan cara-cara tradisional.

Sumber Referensi

  1. Cahanar, P. (2005). Bencana Gempa dan Tsunami Nanggroe Aceh Darussalam & Sumatera Utara. Penerbit Buku Kompas. Jakarta
  2. http : // www.ristek.go.id
  3. http : // www.bakosurtanal.go.id
  4. http : // www.kompas.com
  5. http : // www.geografiana.com
  6. http : // www.bppt.go.id
  7. http : // www.bmg.go.id
  8. http : // www.kapanlagi.com
  9. http : // ioc3.unesco.org

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.